Random Rant About Ujian Komprehensif (2)

Hari ke 2. Industri. Yeeeey hari terakhir.

Entah kenapa aku merasa lebih siap daripada hari kemarin (baca : kompre apotek). Padahal malamnya aku nggak belajar sama sekali. Dan paginya aku panik buru-buru baca laporan sendiri…..itupun baru satu bagian yang dibaca….lol.

Well, mungkin karena aku sudah tahu karakteristik pengujinya sih (kepo dulu dong background pengujinya). Dan percaya atau tidak, aku sudah menyiapkan trik trik tertentu untuk menghadapi penguji hari ini xD ///berlagak seolah olah punya kemampuan supernatural dan tahu apa yang mau ditanyakan.

Lagipula, aku memang lebih berniat belajar materi industri daripada apotek :p tentu saja aku nggak belajar H-1, tapi sedikit demi sedikit mulai dari aku PKPA.

Langsung saja. Hari-H, saking semangatnya aku datang di kampus jam 7.10, padahal ujian baru dimulai jam 8.00 (karena aku dapat giliran maju pertama). Krik krik krik, kampus sepi sekali. Dan saking pedenya juga sampai salah ruangan, eh ternyata ruangannya ganti :/

Jam 8.00 tepat, penguji masuk ruangan, aku langsung masuk juga. Eh, ternyata benar hasil kepo investigasiku. Salah satu penguji dari industri, sebut saja Ibu P, wajahnya sesuai yang aku lihat di FB beliau ////kepo banget sih. Wah, untung nggak salah info hehehe. Penguji lainnya adalah dosenku sendiri, sebut saja Pak K.

Perkenalan diri, ucapkan salam, dan jabat tangan ke penguji untuk memberi kesan profesional layaknya mau interview kerja 😀 ///sok banget sih.

Pertanyaan pertama langsung dari Ibu P, karena aku kemarin PKPA dapat di bagian QC (Quality Control), aku ditanya tentang peranan QC di industri

Kira2 sih aku jawabnya begini

1. Pemeriksaan contoh bahan baku, bahan pengemas, produk ruahan, dan produk jadi

2. Sampling bahan baku (raw material) dan bahan pengemas

3. Pemeriksaan dan pemantauan lingkungan (mutu air, limbah, jumlah partikel di ruang industri, dsb)

4. Uji stabilitas

Dan ibunya cuma tanya2 seputar ke-4 bagian itu….oke nggak masalah. Karena kemarin aku memang “main”nya di bagian QC jadi aku paham apa yang dilakukan secara teknis (walaupun mungkin nggak persis plek laporan).

Misalnya dari pemeriksaan mutu air, aku diminta menjelaskan bagaimana teknik sampling air, apa saja yang diperiksa, frekuensi pengujiannya, juga sistem pengolahan air di industri sampai didapatkan purified water yang dipakai untuk proses produksi. Pretty simple, huh? Secara nggak langsung sudah nyangkut2 bagian lain juga (engineering, produksi).

Dari topik sampling raw material, aku menjelaskan bagaimana teknis sampling, alat yang digunakan, kondisi ruangan untuk sampling, berapa jumlah yang harus disampling dan sebagainya. Bahkan lengkap sampai aku menggambar bagan/denah ruang sampling (yang sudah aku persiapkan dan pikirkan sebelumnya HAHAHAHAHA) #1 perkiraan benar

Nah dari bagian sampling ini aku keceplosan ngomong sesuatu tentang gudang dan vendor. Jadinya aku ditanyain bagian itu deh, padahal nggak begitu paham juga hahaha.Pertanyaannya kalau ada barang yang datang ke gudang, surat-surat apa yang harus diperiksa? Kemudian apa itu kualifikasi vendor dan bagaimana caranya? Waduh, jadi menjalar ke bagian lain yang aku nggak begitu paham xD Yaaa aku jawab saja setahuku sambil berkilah “Kemarin saya tidak di bagian itu Bu, jadi setahu saya…..”. Ibunya cuma senyum-senyum sambil menambahkan/mengoreksi kalau ada yang kurang. Fyuuuh.

“Ya, ini kan saya diminta jadi penguji kompre, jadi saya harus tanya semuanya ya tentang di industri?”

Yha aja deh Bu :p as long as masih yang dasar2/superficial, insya Allah aku masih bisa kok :p

Kemudian (yang aku ingat) Ibu P bertanya “setelah ini (lulus) mau ke mana (kerja di mana)?”. Karena kebetulan aku sudah diterima sebagai staff Analytical Development di suatu industri Farmasi, aku jawab dengan jujur. Nah, ibunya tampak senang sekali karena dulu juga pernah jadi manager RnD (sekarang di produksi) dan menanyakan tentang tahap-tahap formulasi.

Oh, shit.…salah ngomong.

But this show must go on…uh ya aku jelaskan setahuku deh. Biar kelihatan (sedikit) kompeten, aku tanyakan dulu apakah ini formulasi untuk NCE (New Chemical Entity) atau sekedar obat copy….kalau obat copy tahapannya lebih sederhana dan bla bla bla, dari skala pilot, scale up dan akhirnya skala produksi. Ibunya sempat tanya berapa ukuran batch skala pilot? Uuuuuh ini aku nggak ngerti dan aku jawab 1/10 dari skala produksi (ndak tau dapat angka dari mana) tapi untungnya benar 😀 walaupun kurang tepat, lalu ditambahin ibunya.

Oh well, namanya siswa itu tempatnya salah dan lupa kan karena kita masih belajar??? Kalau udah tahu semua ngapain sekolah ///plak.

Berlanjut lagi, ibu P menanyakan tentang masalah/kasus yang pernah ditemui selama aku di QC. Langsung saja aku antusias menjawab bagian yang ini (karena jawabannya sudah aku set sebelumnya agar mengarah ke topik tertentu yang aku pelajari xD) yaitu tentang DISOLUSI.

(ceritanya, sebelum kompre ini aku belajar lagi ttg disolusi dan biofarmasetika karena dosen pengujiku yaitu Pak K adalah dosen biofarmasetika, dan aku sudah menduga akan ditanya hal2 seperti ini HAHAHAHAHAHA!!!) #2 perkiraan benar

Dari disolusi tersebut lalu aku ditanya ttg BCS (Biopharmaceutical Classification System), kemudian kriteria penerimaan disolusi, syarat2 obat yang harus uji bioekivalensi in vivo dan yang boleh hanya uji disolusi terbanding IYEEEESSSHHHH AKU DAH BELAJAR SEMUA TENTANG HAL ITU HAHAHAHA JADI LANCAR JAYA ////guling guling bahagia

Setelah Ibu P kemudian giliran Pak K yang bertanya. Well, beliau tidak tanya banyak sih, cuma menanyakan sedikit ttg tugas khususku selama di industri (update test method berdasarkan kompendial terbaru). Kayaknya keahlian Bapak K tentang biofarmasetika sudah disinggung Ibu P tadi 🙂

30 menit tak terasa sudah berlalu, dan kedua pengujiku sepakat untuk mengakhiri sesi ujian ini. Eh….beneran udah selesai nih Pak, Bu…? tanyaku, karena alokasi waktunya sebenarnya 40 menit tiap mahasiswa.

“Mau saya tanyakan lagi tentang PPIC? (Production Planning and Inventory Control)”

WAAAAAAA enggak deh Bu XDXDXD buru2 aku pamit permisi dan kabur, mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan layaknya perwira menang perang ///lebay dan kemudian tersenyum kepada teman2ku yang sedang menunggu dengan nervousnya diluar.

“Sudaaaaah~ xD” ////ekspresiku saat itu pasti ngeselin.

Summary, kompre industri ini berakhir dengan lancar dan sukses, tidak seperti apotek kemarin yang ZONK abis =__=. Ternyata aku jg yang paling cepat keluar diantara teman2 lainnya, yang rata2 menghabiskan waktu 40-50 menit di dalam, bahkan ada yang sampai 60 menit. Mungkin karena aku dapat giliran pertama jadi penguji baru akan menjajaki kira2 seberapa jauh pengetahuan mahasiswanya.

<<Intinya kompre bukan berarti kamu harus menguasai semua materi kok :p karena yang mengujimu adalah MANUSIA, jadi perhatikan juga kira2 mereka akan menanyakan apa xD biasanya terkait bidang spesialisasi mereka juga sih.>>


Posted in Life Experience, Pharmacy, PKPA, Ujian Komprehensif | Leave a comment

Random Rant About Ujian Komprehensif (1)

Hari 1. Materi : Apotek.

Blergh. Udah males2an belajar. Gak tahu kenapa, kurang minat sama bidang yang satu ini.

Untung dapat giliran ke-6. Jadi bisa dapet bocoran soal dari yang sebelum2nya.

Jam 12.30. Nervous menunggu giliran ditambah suhu ruangan yang begitu dinginnya, dengan enggan aku masuk ruangan dan berharap ini semua cepat selesai. Jujur karena aku nggak menguasai materi (bahkan laporan sendiri saja belum dibaca sampai tuntas), aku cuma bisa mempersiapkan yang terburuk.

Apalagi setelah mendengar dari teman2 yg sblmnya bahwa salah satu pengujinya suka tanya yg aneh2 (unpredictable).

Aaaah, whatever. Let’s end this quickly.

Pengujinya ada dua orang. Sebut saja Pak H dan Bu S. Pak H ini dosen muda (belum pernah diajar beliau sih), tapi dia juga punya apotek, disini berperan sebagai praktisi. Sedangkan Ibu S adalah dosen “legendaris” yang sudah dikenal di kalangan mahasiswa.

Kata teman2 yg sblmnya sih, Pak H ini yang suka memberikan pertanyaan aneh2 (wkwkwk).

>>Masuk ruangan, duduk, dan menghela nafas. Ditanya sama Pak H.

H : “Mbak XXX ya?” (konfirmasi)

Aku : “Iya.”

H : “Dari minat apa?”

Aku : “Industri.”

H : “Kemarin mengerjakan laporan yang bagian apa?

Aku : “Errr….tinjauan pustaka aspek bisnis dan keuangan.”

H : “Berarti bisa ya kalau saya tanya bagian itu?”

Aku : (DAAAAAAAAAAAAAAMN. Kmrn pas bikin laporan 60%nya copas karena diburu2 deadline dan belum dibaca lagi)”Eh….iya Pak. Tapi kalau mau tanya yg lain jg silakan.”

BELAGU LEVEL 90000000000. Aslinya berharap nggak ditanya aspek diatas sih. Lol

H : “Baiklah, pertanyaan pertama. Apa perbedaan narkotika dan psikotropika?”

DAFUQ LEVEL 90000000. Meski ikut kuliah drug abuse, aku selalu nggak bagus dalam menjelaskan definisi yang “resmi”, jadi aku berkilah dengan menyebutkan contoh2nya. Dan biar sedikit meyakinkan aku menambahkan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu

Aku : “….selengkapnya bisa dibaca di UU no. sekiansekiansekian Pak.” (dalam hati : udah, cukup, gitu aja kan ya!)

H : “Penyimpanan narkotika dan psikotropika di apotek tempat kamu praktek kemarin? Dan apa saja contohnya?”

Aku : (menjelaskan sesuai keadaan)

H : “Kalau tramadol itu masuk apa?”

Aku : “Narkotika Pak. Meskipun di apotek tempat saya kemarin nggak disimpan di lemari narkotika.”

H : “Pesannya pakai SP (surat pesanan) apa?”

Aku : (agak nggak yakin)”Errr…narkotika kan ya Pak?”

H : “Hmmm….yakin?” (dengan tatapan ngetes)

Aku : “…………………………………..”

Aku : “Sebenarnya sih Pak, saya belum pernah melihat SPnya untuk tramadol.”

H : “Yang benar tramadol itu masih pakai SP biasa/reguler.”

Aku : “………………..oh.”

>>Move on ke pertanyaan selanjutnya (yang aku masih inget)

H : “Bedanya neraca sama laporan rugi laba? Dan fungsinya?”

Jujur karena aku nggak terlalu menguasai bagian ini (kemarin tdk dapat prakteknya secara langsung), aku cuma menjelaskan setahuku

H : “Hmmm…..masa’ iya sih begitu?”

Aku : “………………………………”

H : “Komponen aktiva sama pasiva apa saja?”

Aku : (menjelaskan seperlunya)

H : “Misalnya nih, saya punya data uang kas, persediaan obat, dan simpanan di bank. Gimana kamu menyusunnya dalam suatu neraca (di bagian aktiva)?”

Aku : (mengurutkan setahuku, seperti yg aku biasa lihat di contoh soal ////dasar kurang pengetahuan)

H : “Kenapa disusun seperti itu? Kamu tahu alasannya?”

Aku : (ragu2) “Eh…..dari tingkat…kemudahan dicairkannya sebagai uang tunai?” ///jawab kayak orang bego

MAU BILANG LIKUIDITAS AJA KOK SUSAH SAAT ITU

H : “Hmph, yakin begitu?”

Hahahahaha. Ini penguji……

Aku salah perkiraan. Kupikir karena Pak H itu dosen farmasetika, bakal ditanyain tentang pembuatan sediaan, peracikan, pelayanan kefarmasian dan hal2 semacam itu. Aku sama sekali nggak berpikir ditanya tentang keuangan sebegini detilnya.

H : “Bisa jelaskan perhitungan laba bersih dan laba kotor?”

(OK kalau yang ini aku bisa jelaskan. Bahkan mungkin ini satu2nya pertanyaan yang aku bisa jawab dengan yakin semenjak pertama tadi .__.)

>>Mari move on ke aspek berikutnya……

H : “Apotek tempat kamu praktek kemarin, berbentuk perseorangan apa badan usaha?”

Aku : “Badan usaha Pak.” (lalu cerita sedikit tentang sejarah pendirian, dan struktur organisasinya untuk memberikan gambaran)

H : “Jadi bentuknya PT (perseroan terbatas) ya apotek tempatmu kemarin….”

H : “Kalau begitu, kamu tahu bedanya CV sama PT?”

Well, ini salah satu pertanyaan yg nggak terduga…..

Aku ingat betul dulu pas SMP pernah dapat pelajaran tentang bentuk2 badan usaha saat pelajaran Ekonomi, termasuk CV, firma, PT dll. Sayangnya sebagian besar isinya sudah lupa. Jadi yah….aku jelaskan saja seingatku .__.

>>Sepertinya karena Pak H sudah merasa penjelasan saya out of topic, jadi pindah ke pertanyaan selanjutnya.

H : “Apotek tempat kamu praktek kemarin, masuk dalam strategi manajemen level apa? Corporate, bisnis, atau fungsional?”

Aku : “Hah…..?”

H : (mengulangi pertanyaaan karena yang ditest memang bego. Padahal ada di laporan, dan yang NULIS ITU AKU!!!)

Aku : “Oh…..eh…..err……” (mikir agak lama)

Aku : “……corporate, Pak?”

H : “Yakin? Kalau apotekmu level corporate, terus yang “diatas”nya lagi gimana?”

(karena memang posisi apotek tempatku praktek memang dikelola atas nama PT sih. Jadi sebut saja PT F., dia mengelola banyak bidang usaha mulai dari apotek, klinik dan sebagainya)

Aku : (mikir keras)

Aku : “Bisnis (aja deh) Pak…..” *pasrah

H : “Kalau di level bisnis, strategi pengembangan apa yang digunakan?”

Aku : (sedikit mengalihkan perhatian)”Jadi Pak, kalau di level bisnis, ada 3 strategi pengembangan yang bisa dilakukan, yaitu cost leadership/overall low cost, diferensiasi dan fokus….kalau apotek tempat saya kemarin, karena dia meng”khusus”kan diri untuk melayani pensiunan XXX, maka dia mengambil strategi terfokus…..”

H : (nggak menanggapi, lalu beralih ke pertanyaan lain)

In the end, aku nggak pernah tahu jawaban yang benar itu seperti apa *rage

Oh iya, sebenarnya aku tahu kalau Pak H juga punya background manajemen. Tapi nggak menyangka bakal ditanya seperti ini juga >(////)< SALAH PERKIRAAN, SALAH STRATEGI, SALAH SEMUANYA ///fliptable

>>Next Question

H : “Kamu berniat mendirikan apotek?”

Aku : “Nggak.” (langsung aku jawab dgn tegas dan spontan)

H : “Hahaha, kenapa?”

Aku : (memang bukan passionnya di situ sih sbnrnya, tapi karena ini UJIAN KOMPRE, ya aku jawab dgn logis lah) “Perijinannya ribet Pak.”

H : “Oh iya? Sekarang coba jelaskan perijinan apotek mulai dari awal kamu mendirikan.”

Senjata makan tuan.

Jadinya yha gitu deh, malah diminta menjelaskan alur pendirian apotek. Yah setidaknya masih lebih mending lah daripada ditanya soal neraca keuangan, manajemen strategi atau perbedaan CV dan PT! (dimana aku sama sekali nggak menguasai hal itu, nggak belajar dan nggak menyangka akan ditanyakan)

H : “Nah lo, ribet di mana? Setelah lulus kamu langsung dapat SK (sertifikat kompetensi) dan STRA (surat tanda registrasi apoteker), kamu tinggal mengurus SIPA (surat ijin praktek apoteker) kan?”

Aku : “Tapi sertifikat kompetensi kan harus diperbaharui setiap tahun Pak, nanti yang lain2nya juga menyusul seperti STRA, SIPA/SIKA, kalau sudah expired kan jg harus perpanjang.”

H : “Setahun???”

Aku : “Eh, salah Pak, maksudnya 5 tahun.” (hahaha)

H : “La kalau kamu kerja jadi apoteker di industri memang nggak ngurus seperti itu? Kan sama saja.”

Aku : (akhirnya menyerah) “Memang saya tidak suka bekerja di bidang pelayanan seperti itu….”

Aku : (melanjutkan penjelasan tanpa diminta)”Setelah itu kan Pak, itu kan baru dari sisi apotekernya sendiri. Kalau dari sisi bangunan, lebih ribet lagi Pak untuk mendapatkan ijin apotek, kita harus mengurus ijin IMB, HO, TDP, SIUP, NPWP bla bla bla bla……(and the story continues).”

Penjelasanku seperti di-cut di tengah jalan karena kalau aku ngomong hal yg aku kuasai, bisa2 alokasi waktunya habis sedangkan penguji kedua (ooops, maaf Ibu S!) belum menanyakan apa-apa.

Akhirnya, move on ke penguji selanjutnya yaitu Ibu S.

S : “Wah, nggak berminat mendirikan apotek ya. Tapi kan ini ujian, jadi ya (kamu) tetep harus ditanya.”

Wakakakakakakaka. Lucu Bu, lucu sekali.

Diluar dugaan, dosen legendaris yang terkenal cukup killer ini hanya memberikan 2 pertanyaan, dan itupun tergolong cukup mudah, hanya perhitungan dosis dan manajemen SDM. Itupun kalau salah masih dikoreksi dan diceramahin. Hehehe. Aku sih jadi anak baik saja yang meng-iya-kan semuanya *gak mau cari masalah*

Akhirnya….sesi ujianku selama 50 menit (harusnya 40 menit berakhir) dan ditutup dengan salam dari Ibu S “Selamat bekerja ya di industri.” Mungkin ibunya sudah cukup tahu kalau dari sikap dan ekspresiku tadi aku sama sekali nggak berniat kerja di apotek/membuka apotek. Hahahahaha.

====THE STORY CONTINUES INTO THE NEXT PART : DAY 2 : INDUSTRI ===== 😀

 


Posted in Life Experience, Pharmacy, Ujian Komprehensif | Tagged , , , , | 2 Comments

Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

Pssst….sharing pengalaman dari teman yang kemarin kerja praktek lapangan di Puskesmas 😀

Teman-teman sekalian, tahukah kalian bahwa para pecandu narkoba (terutama golongan opiat) yang ingin kembali ke jalan yang “benar” 😆 —>. dalam artian memang berniat tidak mengkonsumsi narkoba lagi dan menghilangkan ketergantungannya terhadap barang tersebut—-
mendapat dukungan pemerintah melalui salah satu programnya yaitu Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)? 😀
Apakah yang dimaksud dengan PTRM itu? Yuk simak baik-baik ^_^

[TERAPI RUMATAN METADON]
Terapi rumatan Metadon merupakan salah satu terapi pengganti opiat (Opiate Replacement Therapy) yang diperlukan bagi pecandu opiat (seperti heroin atau morfin) untuk mengendalikan perilaku ketergantungannya dan juga sebagai salah satu upaya pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS. Salah satu unit kesehatan yang diberikan wewenang menyelenggarakan terapi ini adalah puskesmas dan rumah sakit, meskipun tidak semua puskesmas/RS diberi kewenangan menyelenggarakan program ini. Pemberian metadon harian kepada pasien ketergantungan diawasi langsung oleh petugas kesehatan untuk menjamin ketepatan dosis (takaran) dan menghindari penyalahgunaan.

[MENGAPA DIGUNAKAN METADON?]


Metadon merupakan golongan opioid sintetis yang cara kerjanya sama dengan morfin dan heroin, bekerja pada reseptor (tempat aksi) yang sama dan juga menimbulkan efek yang sama sebagai analgesik (anti-nyeri/pereda rasa sakit). Meskipun begitu, sifatnya yang lebih stabil dari heroin dan durasi kerjanya yang lebih lama membantu pasien untuk bertahan lebih lama dengan sensasi penurunan kesadaran yang minim sehingga memungkinkan pasien untuk mengonsumsi sekali sehari tanpa mengganggu aktivitas rutinnya. Metadon juga tidak segera menimbulkan perasaan euforia (kesenangan yang luar biasa) sebagaimana penggunaan heroin/morfin.
Ketergantungan narkotika golongan opiat tidak bisa dihentikan secara mendadak karena akan menimbulkan withdrawal symptom (istilah lainnya : sakaw) yang luar biasa dan pecandu akan merasa sangat kesakitan, sehingga diperlukan penggantian terapi secara perlahan-lahan, salah satunya dengan metadon.

[KRITERIA PASIEN YANG BISA MENGIKUTI PTRM]
1. Berusia minimal 18 tahun dan tidak menderita sakit berat.
2. Mengalami ketergantungan heroin dalam jangka 12 bulan terakhir disertai gejala kecanduan seperti peningkatan dosis heroin dan putus zat (sakaw) bila tidak memakai
3. Sudah pernah mencoba berhenti menggunakan heroin dengan cara rehabilitasi atau detoksifikasi namun gagal dan memakai kembali.
4. Harus diketahui oleh pihak keluarga yang berperan sebagai pendamping atau pada situasi yang tidak memungkinkan, dapat diwalikan oleh pihak lain seperti pendamping LSM.

Perlu diingat juga bahwa selain kriteria diatas yang harus dipenuhi, yang terpenting adalah kesiapan si calon pasien untuk mengikuti program terapi yang bersifat jangka panjang ini. Jangka terapi tidak bisa ditentukan di muka mengingat selama perjalanan terapi seorang pasien dapat saja kambuh menggunakan heroin kembali sehingga membutuhkan perencanaan dosis ulang, atau seorang pasien bisa saja menjalani pengobatan antivirus untuk HIV/AIDS yang membutuhkan peningkatan dosis metadon.

[TAHAPAN PTRM]
Terapi Rumatan Metadon ini diselenggarakan dalam berbagai tahapan yang terdiri dari tahap penerimaan, inisiasi, stabilisasi, rumatan dan penghentian. Keseluruhan tahap ini membutuhkan waktu yang panjang dan berkesinambungan.

1. Penerimaan
Pada tahapan ini pasien akan dilihat apakah memenuhi kriteria untuk mengikuti PTRM dan juga dilakukan pemberian informasi mengenai PTRM, serta dilakukan penyusunan rencana terapi.

2. Inisiasi
Pada tahap ini mulai dilakukan pemberian metadon ke pasien. Dosis awal yang dianjurkan adalah 20-30 mg untuk tiga hari pertama. Kematian sering terjadi bila menggunakan dosis awal yang melebihi 40 mg. Pasien harus diobservasi 45 menit setelah pemberian dosis awal untuk memantau tanda-tanda toksisitas (keracunan) atau gejala putus obat. Jika terdapat intoksikasi atau gejala putus obat berat maka dosis akan dimodifikasi sesuai dengan keadaan.

Metadon harus diberikan dalam bentuk cair dan diencerkan sampai menjadi 100cc dengan larutan sirup. Pasien harus hadir setiap hari di institusi tempat penyelenggaraan PTRM. Metadon sesuai resep dokter, akan diberikan oleh tenaga teknis kefarmasian (contohnya asisten apoteker) atau perawat yang diberi wewenang oleh apoteker penanggung jawab. Pasien harus segera menelan Metadon tersebut di hadapan petugas PTRM. Petugas PTRM akan memberikan segelas air minum. Setelah diminum, petugas akan meminta pasien menyebutkan namanya atau mengatakan sesuatu yang lain untuk memastikan bahwa Metadon telah ditelan. Pasien harus menandatangani buku yang
tersedia, sebagai bukti bahwa ia telah menerima dosis Metadon hari itu.

3. Stabilisasi
Tahap ini bertujuan untuk menaikkan dosis secara perlahan
sehingga memasuki tahap rumatan/pemeliharaan. Dosis yang dianjurkan dalam tahap ini adalah menaikkan dosis awal 5-10 mg tiap 3-5 hari. Hal ini bertujuan untuk melihat efek dari dosis yang sedang diberikan. Total kenaikan dosis tiap minggu tidak boleh lebih 30 mg. Apabila pasien masih menggunakan heroin maka dosis Metadon perlu ditingkatkan.

4. Rumatan/Pemeliharaan
Dosis rumatan rata-rata adalah 60-120 mg per hari. Dosis rumatan harus dipantau dan disesuaikan setiap hari secara teratur tergantung dari keadaan pasien. Selain itu banyak pengaruh sosial lainnya yang menjadi pertimbangan penyesuaian dosis. Fase ini dapat berjalan selama bertahun-tahun sampai perilaku stabil, baik dalam bidang pekerjaan, emosi maupun kehidupan sosial.

5. Penghentian
Metadon dapat dihentikan secara bertahap perlahan jika pasien sudah dalam keadaan stabil, bebas heroin selama 6 bulan dan mampu bekerja serta memiliki dukungan hidup yang memadai.

Selengkapnya bisa Anda baca di Permenkes no.57 tahun 2013 tentang PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON. 

[KESIMPULAN]
Yang harus diingat metadon bukanlah solusi utama dari kecanduan. Metadon hanyalah obat yang bertujuan menghindarkan pasien dari pemakaian heroin. Motivasi diri pasien amat berperan selama masa terapi, terutama sebelum dosis stabil dicapai yang rentan sekali untuk memakai kembali heroin. Bila kepatuhan terapi terjaga, pasien dapat terhindar dari infeksi HIV dari penggunaan heroin suntik dan dapat mengendalikan hidupnya ke arah yang lebih produktif. Untuk mencapai ini dukungan orang terdekat seperti keluarga sangat diutamakan.

Demikian semoga informasi ini bermanfaat \ n__n / kalau ada yang mau ditanyakan silakan~ kapan2 kita lanjutkan cerita ini lagi

———————————————————————————————————-

sedikit promosi nih :p bagi yang mau mendapatkan update info tentang dunia kefarmasian di Facebook, silakan Like dan follow page ini “Fun-Fun Pharmacy” 😀


Posted in Life Experience, Pharmacy, PKPA | Tagged , , , , | Leave a comment

Meng-export Visual Novel ke Android dengan Ren’Py

Bagi yang familiar dengan istilah Visual Novel, apalagi bagi para developer/pembuat Visual Novel, mungkin sudah tidak asing lagi dengan software yang bernama Ren’Py. Yap, Ren’Py merupakan salah satu software yang umum digunakan untuk membuat Visual Novel, diperkenalkan pertama kali sekitar tahun 2004-2005an oleh PyTom, terutama untuk membuat OELVN (Original English  Language Visual Novel) . Salah satu keunggulan Ren’Py dibandingkan dengan software pembuat visual novel yang lain (seperti ONScripter atau Novelty, sebatas itu sih yang saya tahu, hehe :D) adalah kompatibilitasnya lintas platform (multi-platform) yang bisa dijalankan baik di berbagai sistem operasi PC (Windows, Mac dan Linux) maupun mobile (Android, bahkan sekarang sudah mulai merambah ke iOS). Menakjubkan bukan? Seiring dengan perkembangan teknologi, sang developer Ren’Py, pak PyTom, tampaknya tidak lelah untuk terus meng-update software ini supaya tidak ketinggalan jaman.

Oh, jangan khawatir, program ini benar-benar gratis untuk di-download kok, bahkan untuk project komersial 🙂 Ren’Py juga merupakan open source program, jadi Anda bebas memodifikasinya sesuai keperluan 🙂

Nah pada kesempatan kali ini saya akan sedikit sharing pengalaman export project Visual yang sudah establish di versi PC ke versi Android. Outputnya nanti adalah file berekstensi .apk, yang bisa  di-install langsung di Android device Anda, atau bisa juga diupload ke Google Play atau AppStore lain agar bisa dimainkan orang banyak 😀

Seperti inilah tampilan launcher Ren’Py yang sudah mendukung untuk export ke Android dan iOS (Sampai saat ini, Ren’Py terbaru setahu saya adalah versi 6.99)

launcher

Tampilan Ren’Py Launcher

Saya mengasumsikan bahwa Anda sudah paham opsi yang ada di launcher tersebut, sehingga yuk kita langsung mulai saja untuk export ke Android 😀

Sekedar saran saja sih, sebaiknya Anda pisah project yang akan Anda export ke Android dari versi PC-nya, karena akan ada beberapa perbedaan file yang diperlukan di versi Android nantinya, sekaligus akan lebih memudahkan dalam modifikasi dan back-up kedepannya. Seperti yang Anda lihat di screenshot saya di atas, ada dua project dengan nama yang sama, namun salah satunya memang saya “dedikasikan” untuk versi Android.

Untuk mulai membangun/build project Anda ke Android, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Mari kita mulai untuk meng-klik opsi “Android” pada launcher tersebut.

Maka Anda akan menjumpai tampilan seperti di bawah ini

build1

Build Android

Dibawah menu “Build” terlihat ada 5 opsi, 2 opsi teratas harus dijalankan terlebih dahulu sebelum Anda mulai meng-export VN Anda ke Android. Dalam posisi default (pertama digunakan), opsi ke 3 sampai dengan 5 akan inactive (tercetak abu-abu) karena belum dapat digunakan sebelum Anda menginstall “material” yang diperlukan.

Nah kita ikuti saja sesuai urutan!

1. Install SDK & Create Keys

Pada tahapan ini Ren’Py akan mendownload file/library yang diperlukan dalam proses build ke Android, sehingga pastikan bahwa Anda terkoneksi ke jaringan internet dengan kecepatan memadai dan stabil. Karena ukuran file keseluruhan yang di-download cukup besar, saya menyarankan Anda menggunakan Wi-Fi agar tidak memakan waktu terlalu lama. Tahapan ini meliputi proses sebagai berikut:

  • Mengecek apakah JDK sudah terinstall dengan benar. JDK (Java Development Kit) mengandung beberapa tools yang akan digunakan oleh RAPT (Ren’Py Android Packaging Tools), termasuk tools yang digunakan untuk generate keys dan sign packages.
  • Menginstall ApacheAnt
  • Menginstall Android SDK
  • Menggunakan Android SDK untuk menginstall development packages yang sesuai
  • Membuat signing key yang akan digunakan untuk sign packages (android.keystore: akan di-generate di direktori dimana RAPT berada).

(p. s : saya sebenarnya kurang paham dengan detail bagian ini karena bukan programmer :p)

Jika Anda sama sekali tidak tahu apa-apa tentang tools-tools tersebut (seperti saya) jangan khawatir, karena Ren’Py secara otomatis akan mendownload semua material yang diperlukan, jadi tunggu saja dengan sabar dan mungkin bisa disambi hal lainnya :p

2. Configure

Tahapan ini meliputi pemberian nama aplikasi yang Anda buat, nama package (biasanya dengan format : com.domain.program), versi aplikasi, display aplikasi (apakah akan ditamplikan secara portrait/landscape, tergantung resolusi aplikasi juga sih. Kebanyakan VN yang saya jumpai selama ini ada dalam tampilan landscape), target dimana aplikasi dapat dijalankan (apakah di Android versi 2 keatas, 3 keatas, dsb), apakah aplikasi tersebut diijinkan untuk mengakses internet dan juga berbagai opsi lainnya.

Hal yang penting dalam tahap ini adalah opsi dimana Anda ditawari untuk membuat ekspansi .apk. Seperti yang Anda ketahui, bahwa Google Play membatasi developernya untuk mengunggah file .apk sampai dengan 50 MB, jika aplikasi Anda kebetulan melebihi ukuran file tersebut maka mau tidak mau Anda harus membuat file ekspansi (tambahan) yang berekstensi .obb, dan bukan .apk

Tenang, Ren’Py menyediakan fasilitas untuk membuat file ekspansi tersebut hanya dengan satu kali klik 😀

Choice : Expansion

Choice : Expansion

Tentunya jika memang dari semula Anda berencana untuk mengunggah Visual Novel tersebut ke Google Play dan ukuran file Anda lebih dari 50MB, maka pilihan kedualah yang dipilih 🙂 tetap ada batasannya ya dalam meng-export VN ke Android, yaitu ukuran file keseluruhan maksimal 2 GB (dimana jarang sekali saya menjumpai VN-VN indie dengan ukuran sebesar ini, kecuali untuk VN buatan Jepang yang playtimenya panjang, banyak CGnya dan full voice).

Setelah tahapan ini selesai, Anda siap untuk masuk ke tahapan selanjutnya, yaitu Build Package 🙂

3. Build Package

Seperti namanya, tahapan ini akan meng-compile semua file yang diperlukan dan sudah diatur sebelumnya untuk kemudian membangun dalam output yang bisa dibaca di Android, yaitu file dengan ekstensi .apk. Proses ini biasanya memakan beberapa waktu tergantung seberapa besar project yang Anda buat. Jika build ini berhasil, Anda akan mendapatkan notifikasi “sukses” di launcher Ren’py yang berbunyi seperti ini.

 “The built seems to have succeeded”

Aduuuh seneng banget deh kalau sudah sampai tahapan sini 🙂 pertama kali saya coba dulu sih, sering nggak berhasilnya, hehe, ternyata setelah dicari-cari penyebabnya kadang material yang didownload saat tahapan pertama belum lengkap, atau belum ter-extract secara keseluruhan (kalau sudah begini sih, biasanya dowload terpisah saja, seperti misalnya RAPT, karena ukuran file-nya cukup besar, jadi sering not responding saat download di tengah jalan :/). Ataukah mungkin dalam script Anda ada yang bermasalah saat di-convert ke Android? Bisa jadi. Kalau soal itu tanyakan ke yang expert ya (yang benar2 punya background programming, bukan orang awam seperti saya :p )

Eits, tapi, jangan senang dulu….berhasil sih berhasil, tapi benar bisa dijalankan di Android nggak? Nah oleh karena itu kita perlu menguji output file .apk yang kita buat….eits tapi filenya ada dimana yah? :/ Nah, pertama kali saya buat juga bingung wkwkwk dikira file-nya hilang ditelan bumi :p eh ternyata file .apk kita ada di direktori rapt\bin. Jadi jika aplikasi Ren’Py versi 6.99.4 Anda berada di direktori D:\ misalnya, maka file .apk Anda akan berada di D:\Ren’Py 6.99.4\rapt\bin.

release

File .apk yang sudah terbuild

Woops….kok file .apknya ada banyak? Tenang tenang, yang fungsional hanyalah yang pakai suffix/akhiran -release kok dibelakangnya 🙂 file .apk yang lain hanya merupakan “by-product” dari proses building tadi (saya juga nggak ngerti sih bagaimana algoritma Ren’Py dalam nge-build sampai ada “produk sampingan” seperti itu) jadi abaikan saja~ Oh ya nama file ini juga bisa Anda ganti sesuai kebutuhan.

Sekarang tinggal menguji file .apk Anda di Android device sebelum mengunggahnya di Google Play atau AppStore lainnya 🙂 sebenarnya di launcher Ren’Py tadi ada kan opsi ke 4 dan 5, Build&Install serta Build, Install& Launch, mungkin dengan asumsi selama proses building tsb berlangsung Android device Anda sdh terhubung ke PC melalui USB, tapi selama ini saya tidak pernah melakukannya jadi kurang tahu :’D Setelah proses Build selesai biasanya saya langsung mentransfer file .apk tadi secara manual ke Android device saya sih, baru di-install di Android device juga.

Demikian info yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat 🙂 kalau ada yang mau ditanyakan, silakan, akan saya jawab kalau bisa, kalau ada koreksi, silakan diutarakan, maklum saya bukan programmer sesungguhnya 😆

Selengkapnya dapat dibaca di dokumentasi resmi Ren’Py tentang build ke Android 

———————————————————————————————————-

Oh iya, saat ini saya juga ada project Visual Novel yang sudah release ke Android (masih demo sih) tapi silakan dicoba (FREE) untuk merasakan betapa powerfulnya Ren’py untuk memfasilitasi saya yg orang awam ini sampai bisa launch ke AppStore, hahaha. Saya selama ini cuma belajar dari baca2 tutorial dan dokumentasi sih, sekali-kali dengan bertanya ke para expert 🙂 tapi yang lebih utama adalah mau mencoba dan gagal berulang kali, hehehe.

app

Jangan lupa untuk dukung terus dunia VN Indonesia 🙂

vnp at comifuro

Mampir ke website kami, VN Project Indonesia 😀


Posted in Tutorial, Visual Novel | Tagged , , , , , , | 8 Comments

PKPA Industri – A Roller Coaster Journey

Warning: Might contain spoilers, horrible grammar, alien term and mixed language.

Disclaimer: This is purely my subjective opinion and I do not intend to do any harm or blame anyone.

These past 2 months has been a great ride for me. It began with a little pragmatic feeling (Aaah, why I do have to do this? I want to get it out here as fast as I can.) and ended with mixed feelings, between unsatisfactory “after-taste”, a bitter feeling, yet I don’t want to leave as soon as possible and if I could turn over back time, I’d like to start it all over again, with my memories still intact.

———————————————————————————————

Yap, ini cerita tentang PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) selama 2 bulan di industri (periode Februari-Maret 2015). Semacam PKL (Praktek Kerja Lapangan) atau magang di suatu perusahaan.

Magang di perusahaan farmasi bukanlah hal baru bagiku. Sebelumnya aku sudah pernah magang saat masih kuliah S-1. Kebetulan dulu aku ditempatkan di bagian QA (Quality Assurance), yang pekerjaannya lebih ke mengurus dokumen dan jarang terjun langsung ke lapangan. Dari apa yang aku pelajari saat magang dulu, dunia kerja (setidaknya apa yang aku kerjakan) itu begitu melelahkan dan membosankan. Harus masuk tepat waktu (bahkan lebih awal dari jam masuk anak sekolah pada umumnya). Mengerjakan hal yang itu-itu saja. Jujur, aku bukan tipe orang yang betah cuma kerja duduk di depan komputer. Seringkali aku (hampir) tertidur di depan komputer <j̶a̶n̶g̶a̶n̶ ̶d̶i̶t̶i̶r̶u̶ ̶y̶a̶>, padahal sekedar memasukkan data batch record  ke dalam spreadsheet. Atau saat membuat protokol dan laporan validasi concurrent. Bahkan saat menafsirkan analisis statistik dengan Minitab. Semuanya membuat aku ngantuk. Menunggu jam istirahat atau pulang kerja adalah suatu siksaan bagiku. Aaaah, rasanya ingin cepat2 berakhir.

Sedikit skeptis dengan magang di perusahaan yang kedua ini <nama perusahaan dirahasiakan e̶h̶ ̶s̶u̶d̶a̶h̶ ̶p̶a̶d̶a̶ ̶t̶a̶h̶u̶ ̶y̶a̶>, mau tidak mau aku tetap harus menjalaninya karena ini kewajiban dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan, berbeda saat aku masih S-1 dulu dimana aku magang dengan sukarela. Yang berbeda lagi magang kali ini aku ditempatkan di luar kota jauh dari kota dimana aku tinggal dan universitas di mana aku belajar, jadi di awal perjuangan untuk sampai dan bisa hidup pun merupakan sesuatu yang cukup berat. Setelah survey H-1 <OKAY THERE WAS NO MUCH TIME LEFT BACK THEN> aku sudah mempelajari bahwa perusahaan tempatku magang adalah kawasan rawan banjir , padahal saat itu bulan Februari dan hujan masih setia turun ke bumi….

 

“Oh, crap.”

 

Hari pertama magang, belum ada kejelasan tugas/kewajiban yang harus aku kerjakan. Hari kedua aku dan temanku (kami berdua dari almamater yang sama) ditawari untuk memilih dua posisi yang sedang membutuhkan anak PKL. Satu di bagian QC (Quality Control) dan QA (Quality Assurance).

 

Secercah harapan timbul di benakku saat itu untuk mencoba mengadu nasib di QC meskipun aku ini orangnya selalu nggak beres kalau harus kerja di laboratorium.

 

What about QA? To hell with QA, there’s no way I’ll go back there…..! Enough. Already enough with QA stuff.

 

Jadilah aku ditempatkan di QC. Dan ini adalah awal dari perjalananku selama 2 bulan.

 

Ternyata ditempatkan di QC tidak seperti bayanganku yang nantinya aku harus bekerja di laboratorium dan berhadapan dengan alat-alat canggih atau reagen-reagen kimia. Supervisorku memberikan tugas yang hanya perlu aku kerjakan di depan komputer.

 

I….ini sih sama saja….Padahal aku berharap bisa mengoperasikan HPLC atau GC yang nggak seperti di kampus.

shock

A…..apaaaaaa?

 

Meskipun begitu pada awalnya aku cukup enjoy dengan tugas yang diberikan padaku. Pekerjaannya cukup gampang, aku diminta memperbaharui test method jadul yang biasa digunakan di laboratorium untuk analisis rutin dengan mengacu pada prosedur terbaru yang ada di kompendial seperti United States Pharmacopoeia dan European Pharmacopoeia. Karena test method nya ada dalam bahasa Indonesia sedangkan prosedur aslinya dalam bahasa Inggris, otomatis aku haru menerjemahkannya supaya mudah dipahami. Ini juga pengalaman pertamaku membaca Farmakope asing karena sebelumnya cuma Farmakope Indonesia yang pernah disentuh. k̶e̶t̶a̶h̶u̶a̶n̶ ̶j̶a̶r̶a̶n̶g̶ ̶k̶e̶ ̶p̶e̶r̶p̶u̶s̶

 

Nggak jauh beda dengan jadi penerjemah.

Tapi pekerjaan jadi penerjemah ini menurutku cukup kece, karena yang bisa memahami bahasa di Farmakope cuma orang yang punya latar belakang pendidikan Farmasi, analis kimia atau sejenisnya  😀

 

Tapi 1 minggu, 2 minggu, lama-lama bosan juga karena tugasnya itu-itu saja. Kadang aku juga ingin kerja analisis rutin di laboratorium seperti analis-analis QC lainnya. Kadang aku merasa minder sama anak PKL yang dari D3 analis karena pasti mereka lebih mahir dari aku soal analisis rutin. Tentunya, mereka setiap hari dilibatkan dalam pekerjaan lab, tidak sepertiku yang cuma kerja di depan komputer. Aku jadi merasa nggak berguna karena nggak membantu apa-apa. Rasanya aku ingin ikut membantu, tapi segan untuk menawarkan diri.

 

Sampai pada suatu hari dimana salah seorang analis melihatku bosan kerja di depan komputer

 

“Eh, bantuin di lab yuk. Ini lagi ngejar deadline harus segera release nih.”

 

Rasanya campur aduk. Antara excited karena pertama kalinya bisa kerja langsung di lab, dan takut setengah mati kalau-kalau nanti melakukan kesalahan yang memalukan. Aku ini apoteker loh, masak kalah sama yang analis D3 kalau soal analisis? Dimarahin kalau salah sih wajar, namanya baru pertama kali kan, tapi masak gitu aja salah? Maklum aku ini orangnya terlalu antisipatif dan jaim.

 

At least, I tried not to make any mistakes.

 

Baru pada awal-awal mengerjakan larutan buat preparasi, aku sudah kebingungan nyari alat-alat dan reagen yang dibutuhkan karena nggak tahu tempatnya. Yah, wajar kan?! After all, this is my first time here, come on!!! Tapi setiap kali aku tanya ini dimana, itu dimana, hampir semua staffnya nggak menjelaskan dengan baik (mungkin saking sibuknya? atau aku dianggap mengganggu?). Itu sudah membuatku (1) mencoba bersabar. Yang kedua, aku dimarahin gara-gara salah memasang labu volumetrik dan tutupnya. So what’s a big deal about it??? Sudah susah payah mencari tutup yang pas diantara sekian banyak tumpukan tutup yang menggunung dan berserakan (dengan berbagai macam merk, bahan, warna dan ukuran), masih juga kurang pas. “Masa’ sih kamu nggak bisa membedakan yang mana tutup buat labu yang ini dan buat yang lain???” begitu salah satu omelan salah seorang staff. Ya gimana aku bisa tahu, ini kan juga pertama kalinya aku kerja di sini!!!

 

(2) Tetap sabar

sabar

Sabar….ya

 

 

 

Biasanya kalau di kampus sih, nggak masalah kalau persoalan tutupnya kurang pas. Toh paling juga dikocok pakai tangan, asal nggak tumpah saja cairan di dalamnya. Tapi persoalannya berbeda dengan di lab ini karena penggojogan dilakukan dengan mechanical shaker  yang notabene kecepatan sekaligus kekuatan penggojogannya lumayan kencang dan kuat. Sehingga menjadi persoalan besar jika pada saat penggojogan nantinya cairan didalamnya tumpah karena kurang tepatnya pemasangan antara labu volumetrik dan tutupnya.

Selidik punya selidik, setelah diajak kerja di laboratorium untuk yang kedua kalinya, aku baru sadar ternyata untuk memasangkan labu volumetrik dengan tutupnya yang pas aku cukup mencocokkan antara merk dan dimensi dari labu yang bersangkutan dengan tumpukan tutup yang menggunung di bak penampungan. Oooh, jadi seperti ini toh. Gampang ternyata (dasar ndeso). Meskipun tetap diperlukan kesabaran untuk mencari, setidaknya kini aku tahu triknya. Mungkin bagi para analis yang sudah biasa kerja di lab tanpa mencocokkan pun mereka sudah tahu dengan sekali lihat, tapi kan beda denganku yang baru pertama kali kerja di lab dan nggak tahu apa-apa.

Kesimpulannya, belajar dari kesalahan memang guru yang terbaik.

Pengalaman kedua yang cukup seru selama berada di QC adalah merasakan training langsung bersama dengan Plant Directornya. Sebut saja namanya Mr. Rajesh (lol memang nama aslinya). Nggak pernah terbayang kan orang dengan jabatan setinggi Plant Director mau susah-susah ngasih training ke staffnya? Biasanya sesi training ini memang dilaksanakan rutin setiap 2 minggu sekali untuk staff di QC (termasuk analis dan supervisornya) juga beberapa orang dari QA.

Pada mulanya aku berpikir tidak diminta ikut training juga karena aku cuma anak bawang magang. Namun supervisorku ternyata mengajakku ikut. Bengong pada awalnya karena bener-bener nge blank  tentang format dan isi training pada umumnya, apalagi Mr.Rajesh ternyata orang India dan dia pakai bahasa Inggris yang aneh logatnya. Perlu waktu otakku loading agak lama untuk memahami apa yang beliau bicarakan. Separo lebih apa yang dia bicarakan pada awalnya sama sekali cuma masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Baru di tengah2 aku agak mudeng (cuma “agak”, maklum skill listeningku di TOEFL hancur lebur) apa yang beliau bicarakan. Oooh, tentang kalibrasi timbangan. Bagaimana cara kalibrasi timbangan. Traceability. Hampir semuanya merupakan pengetahuan baru yang tidak aku dapatkan di kampus. Hmm, menarik, menarik *write it down*. Kemudian tiba-tiba topiknya beralih ke disolusi. Menariknya lagi, mulai ditanyain satu persatu nih staffnya. Wah, kok Mr.Rajesh hafal nama staffnya juga yah? Soalnya dia meng-adress staffnya dengan namanya langsung.

For example : “Das*p, please explain to me the acceptance criteria for dissolution according to USP Apparatus One.”

What the….?! Gw aja nggak ngerti!!! (ketahuan nggak pernah baca USP, atau, tidur saat kuliah biofarmasetika dulu).

Saat staff yang ditanya kebingungan menjawab (mungkin karena grogi, mungkin karena bahasa Inggrisnya nggak lancar, meskipun sebenarnya tahu kalau diminta menjelaskan dalam Bahasa Indonesia), supervisor QC di tempatku pun membantunya “merangkai kata” (eciehhhh). Ternyata ada yang dinamakan S1, S2, S3 dan sebagainya. Intinya kalau S1 tidak memenuhi syarat, dilanjutkan S2, kemudian (paling mentok) S3. (baca sendiri di USP woy!)

Setelah dijelaskan, Mr.Rajesh balik bertanya.

Well then, do you know why they made an acceptance criteria like that?” (p.s : aku sbnrnya agak lupa persisnya bapaknya ngomong gimana, tapi intinya begitu)

DAFUQ

DAFUQ

 

DAFUQ! Pertanyaan apa itoeee? Berasa kayak pre-test mau praktikum biofarmasetika!

Semuanya hening. Nggak ada yang bisa menjawab kayaknya. Termasuk aku. Damn it……apa yah??? Kayaknya aku berpikir aku mungkin tahu sebabnya, tapi kok susah mau ngomongnya. Kemudian bapaknya ngomong lagi (belum memberikan jawaban). Mengapa zat X di test method  waktu disolusinya cuma 30 menit. Sedangkan untuk zat Y disolusinya perlu 60 menit. Mengapa kriteria keberterimaan tiap zat aktif untuk kadar disolusi berbeda-beda. Aku dengarkan penjelasan bapaknya baik-baik. Aku mencoba menghubungkan semua fakta yang ada….dan kesimpulan yang bisa ditarik dari semua itu.

 

BCS, Biopharmaceutical Classification System

Tiba-tiba sepatah kata itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari. Semua orang terdiam. Sial. Aku lancang banget sih jadi anak magang motong pembicaraan di tengah-tengah. Mr.Rajesh langsung melirik ke arahku.

“What? What did you just say?!”

Mungkin karena suaraku agak lirih sehingga tidak terdengar jelas barusan.

“BCS, Sir. Biopharmaceutical Classification System.” jawabku dengan suara agak keras

(aku agak khawatir salah singkatan, tertukar dengan BSC (Balance Score Card) yang aku pelajari saat kuliah manajemen lol)

“WHO IS SHE?!”

Kaget. Tiba-tiba Bapaknya teriak kayak gitu sambil nunjuk-nunjuk ke arahku. Calm down, Sir. Mungkin karena Mr.Rajesh familiar dengan semua staff di QC, dan yang menyela pembicaraan beliau adalah orang asing cuma numpang lewat.*setel lagu India*

Setelah dijelaskan supervisorku bahwa aku adalah anak magang dari universitas, beliau langsung mangut-mangut.

“I see, a college student. The difference between we, as practical person and she, as college student, is because she study everyday, unlike us.”

“W-Well, it’s not like I study everyday….” bantahku. Kenyataan memang kalau aku ini always procrastinating.

But I’m glad. Kesan pertama Mr.Rajesh ke aku jadi bagus karena beliau impressed atas pengetahuanku (yang secara kebetulan tiba2 muncul ke permukaan setelah sekian lama cuma mengendap di hippocampus). Dan secara tidak langsung membuat “image”ku di mata supervisor dan staff2 QC lainnya juga jadi baik. Hehehe. Mungkin aku memang kurang di bagian practical skill, tp ada di bagian tertentu aku bisa lebih baik dari mereka.

Setelah penjelasan bla bla bla tentang disolusi (dan memang benar tentang BCS tersebutlah yang menyebabkan dibuatnya acceptance criteria mulai S1, S2 dan S3 dengan mempertimbangkan sifat bahan aktifnya) Mr.Rajesh mengajak semua staffnya masuk ke ruang instrument (dimana terdapat instrumen seperti HPLC, GC, spektrofotometer UV, dan IR). Disana Mr.Rajesh kembali memulai penjelasannya tentang….spektrofotometer UV-Vis. As if want to test my ability once again, beliau memintaku untuk menjelaskan tentang hukum Lambet Beer yang mendasari prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis.

 

And my awkward explanation goes on…..Padahal kalau ditulis sebenarnya gampang banget, A = e bc. Tapi kalau diminta menjelaskan, dalam bahasa Inggris pula, susah juga ==’

 

Well, in the end, although I’m not too confident about it, but again Mr.Rajesh looks impressed. Aku sih cuma senyum-senyum dan gak berharap ditanyain lagi!… kemudian mundur perlahan mengambil posisi yang tidak “mencolok”. Sesi training ini akhirnya berakhir sekitar 1 jam kemudian. Tentunya setelah itu, aku sadar masih banyak yang harus dipelajari, walaupun hanya 1 topik, misalnya tentang disolusi. Ternyata ilmu kuliah itu berguna juga, walaupun hanya sedikiiiiit, dan harus terus di-update saat kita bekerja nantinya :). karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan regulasi selalu berubah, maka dari itu kita harus selalu menyesuaikan diri terhadap perkembangan terbaru (terutama yang mau kerja di Industri Farmasi sih, hehe).

 

Begitulah salah satu dari pengalamanku yang seru di QC selama 2 bulan. Sejujurnya, aku sering dikasih kerjaan nggak penting selama PKPA Industri, seperti merapikan dokumen, SOP, mengantar barang, fotocopy, scan, bahkan mengukur dimensi tablet :p Ada juga hal yang bermanfaat sekaligus seru seperti pengalaman sampling raw material, sampling air dan masuk ruang mikrobiologi (berakhir dengan gagal total karena aku grogi, padahal cuma nyaring air pake filter >___> dan lagi2 dimarahin staff QCnya karena dianggap tidak kompeten….ha ha ha. Ya sudahlah). Enaknya di QC, masih bisa jalan-jalan, kalau di QA sih, di depan komputer melulu dan kerjaannya itu2 saja, ha ha ha. *evil laugh*

 

Ini pengalamanku, mana pengalamanmu? :p

 


Posted in Life Experience, Pharmacy, PKPA | Tagged , , , , | Leave a comment