PKPA Industri – A Roller Coaster Journey

Warning: Might contain spoilers, horrible grammar, alien term and mixed language.

Disclaimer: This is purely my subjective opinion and I do not intend to do any harm or blame anyone.

These past 2 months has been a great ride for me. It began with a little pragmatic feeling (Aaah, why I do have to do this? I want to get it out here as fast as I can.) and ended with mixed feelings, between unsatisfactory “after-taste”, a bitter feeling, yet I don’t want to leave as soon as possible and if I could turn over back time, I’d like to start it all over again, with my memories still intact.

———————————————————————————————

Yap, ini cerita tentang PKPA (Praktek Kerja Profesi Apoteker) selama 2 bulan di industri (periode Februari-Maret 2015). Semacam PKL (Praktek Kerja Lapangan) atau magang di suatu perusahaan.

Magang di perusahaan farmasi bukanlah hal baru bagiku. Sebelumnya aku sudah pernah magang saat masih kuliah S-1. Kebetulan dulu aku ditempatkan di bagian QA (Quality Assurance), yang pekerjaannya lebih ke mengurus dokumen dan jarang terjun langsung ke lapangan. Dari apa yang aku pelajari saat magang dulu, dunia kerja (setidaknya apa yang aku kerjakan) itu begitu melelahkan dan membosankan. Harus masuk tepat waktu (bahkan lebih awal dari jam masuk anak sekolah pada umumnya). Mengerjakan hal yang itu-itu saja. Jujur, aku bukan tipe orang yang betah cuma kerja duduk di depan komputer. Seringkali aku (hampir) tertidur di depan komputer <j̶a̶n̶g̶a̶n̶ ̶d̶i̶t̶i̶r̶u̶ ̶y̶a̶>, padahal sekedar memasukkan data batch record  ke dalam spreadsheet. Atau saat membuat protokol dan laporan validasi concurrent. Bahkan saat menafsirkan analisis statistik dengan Minitab. Semuanya membuat aku ngantuk. Menunggu jam istirahat atau pulang kerja adalah suatu siksaan bagiku. Aaaah, rasanya ingin cepat2 berakhir.

Sedikit skeptis dengan magang di perusahaan yang kedua ini <nama perusahaan dirahasiakan e̶h̶ ̶s̶u̶d̶a̶h̶ ̶p̶a̶d̶a̶ ̶t̶a̶h̶u̶ ̶y̶a̶>, mau tidak mau aku tetap harus menjalaninya karena ini kewajiban dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan, berbeda saat aku masih S-1 dulu dimana aku magang dengan sukarela. Yang berbeda lagi magang kali ini aku ditempatkan di luar kota jauh dari kota dimana aku tinggal dan universitas di mana aku belajar, jadi di awal perjuangan untuk sampai dan bisa hidup pun merupakan sesuatu yang cukup berat. Setelah survey H-1 <OKAY THERE WAS NO MUCH TIME LEFT BACK THEN> aku sudah mempelajari bahwa perusahaan tempatku magang adalah kawasan rawan banjir , padahal saat itu bulan Februari dan hujan masih setia turun ke bumi….

 

“Oh, crap.”

 

Hari pertama magang, belum ada kejelasan tugas/kewajiban yang harus aku kerjakan. Hari kedua aku dan temanku (kami berdua dari almamater yang sama) ditawari untuk memilih dua posisi yang sedang membutuhkan anak PKL. Satu di bagian QC (Quality Control) dan QA (Quality Assurance).

 

Secercah harapan timbul di benakku saat itu untuk mencoba mengadu nasib di QC meskipun aku ini orangnya selalu nggak beres kalau harus kerja di laboratorium.

 

What about QA? To hell with QA, there’s no way I’ll go back there…..! Enough. Already enough with QA stuff.

 

Jadilah aku ditempatkan di QC. Dan ini adalah awal dari perjalananku selama 2 bulan.

 

Ternyata ditempatkan di QC tidak seperti bayanganku yang nantinya aku harus bekerja di laboratorium dan berhadapan dengan alat-alat canggih atau reagen-reagen kimia. Supervisorku memberikan tugas yang hanya perlu aku kerjakan di depan komputer.

 

I….ini sih sama saja….Padahal aku berharap bisa mengoperasikan HPLC atau GC yang nggak seperti di kampus.

shock

A…..apaaaaaa?

 

Meskipun begitu pada awalnya aku cukup enjoy dengan tugas yang diberikan padaku. Pekerjaannya cukup gampang, aku diminta memperbaharui test method jadul yang biasa digunakan di laboratorium untuk analisis rutin dengan mengacu pada prosedur terbaru yang ada di kompendial seperti United States Pharmacopoeia dan European Pharmacopoeia. Karena test method nya ada dalam bahasa Indonesia sedangkan prosedur aslinya dalam bahasa Inggris, otomatis aku haru menerjemahkannya supaya mudah dipahami. Ini juga pengalaman pertamaku membaca Farmakope asing karena sebelumnya cuma Farmakope Indonesia yang pernah disentuh. k̶e̶t̶a̶h̶u̶a̶n̶ ̶j̶a̶r̶a̶n̶g̶ ̶k̶e̶ ̶p̶e̶r̶p̶u̶s̶

 

Nggak jauh beda dengan jadi penerjemah.

Tapi pekerjaan jadi penerjemah ini menurutku cukup kece, karena yang bisa memahami bahasa di Farmakope cuma orang yang punya latar belakang pendidikan Farmasi, analis kimia atau sejenisnya  😀

 

Tapi 1 minggu, 2 minggu, lama-lama bosan juga karena tugasnya itu-itu saja. Kadang aku juga ingin kerja analisis rutin di laboratorium seperti analis-analis QC lainnya. Kadang aku merasa minder sama anak PKL yang dari D3 analis karena pasti mereka lebih mahir dari aku soal analisis rutin. Tentunya, mereka setiap hari dilibatkan dalam pekerjaan lab, tidak sepertiku yang cuma kerja di depan komputer. Aku jadi merasa nggak berguna karena nggak membantu apa-apa. Rasanya aku ingin ikut membantu, tapi segan untuk menawarkan diri.

 

Sampai pada suatu hari dimana salah seorang analis melihatku bosan kerja di depan komputer

 

“Eh, bantuin di lab yuk. Ini lagi ngejar deadline harus segera release nih.”

 

Rasanya campur aduk. Antara excited karena pertama kalinya bisa kerja langsung di lab, dan takut setengah mati kalau-kalau nanti melakukan kesalahan yang memalukan. Aku ini apoteker loh, masak kalah sama yang analis D3 kalau soal analisis? Dimarahin kalau salah sih wajar, namanya baru pertama kali kan, tapi masak gitu aja salah? Maklum aku ini orangnya terlalu antisipatif dan jaim.

 

At least, I tried not to make any mistakes.

 

Baru pada awal-awal mengerjakan larutan buat preparasi, aku sudah kebingungan nyari alat-alat dan reagen yang dibutuhkan karena nggak tahu tempatnya. Yah, wajar kan?! After all, this is my first time here, come on!!! Tapi setiap kali aku tanya ini dimana, itu dimana, hampir semua staffnya nggak menjelaskan dengan baik (mungkin saking sibuknya? atau aku dianggap mengganggu?). Itu sudah membuatku (1) mencoba bersabar. Yang kedua, aku dimarahin gara-gara salah memasang labu volumetrik dan tutupnya. So what’s a big deal about it??? Sudah susah payah mencari tutup yang pas diantara sekian banyak tumpukan tutup yang menggunung dan berserakan (dengan berbagai macam merk, bahan, warna dan ukuran), masih juga kurang pas. “Masa’ sih kamu nggak bisa membedakan yang mana tutup buat labu yang ini dan buat yang lain???” begitu salah satu omelan salah seorang staff. Ya gimana aku bisa tahu, ini kan juga pertama kalinya aku kerja di sini!!!

 

(2) Tetap sabar

sabar

Sabar….ya

 

 

 

Biasanya kalau di kampus sih, nggak masalah kalau persoalan tutupnya kurang pas. Toh paling juga dikocok pakai tangan, asal nggak tumpah saja cairan di dalamnya. Tapi persoalannya berbeda dengan di lab ini karena penggojogan dilakukan dengan mechanical shaker  yang notabene kecepatan sekaligus kekuatan penggojogannya lumayan kencang dan kuat. Sehingga menjadi persoalan besar jika pada saat penggojogan nantinya cairan didalamnya tumpah karena kurang tepatnya pemasangan antara labu volumetrik dan tutupnya.

Selidik punya selidik, setelah diajak kerja di laboratorium untuk yang kedua kalinya, aku baru sadar ternyata untuk memasangkan labu volumetrik dengan tutupnya yang pas aku cukup mencocokkan antara merk dan dimensi dari labu yang bersangkutan dengan tumpukan tutup yang menggunung di bak penampungan. Oooh, jadi seperti ini toh. Gampang ternyata (dasar ndeso). Meskipun tetap diperlukan kesabaran untuk mencari, setidaknya kini aku tahu triknya. Mungkin bagi para analis yang sudah biasa kerja di lab tanpa mencocokkan pun mereka sudah tahu dengan sekali lihat, tapi kan beda denganku yang baru pertama kali kerja di lab dan nggak tahu apa-apa.

Kesimpulannya, belajar dari kesalahan memang guru yang terbaik.

Pengalaman kedua yang cukup seru selama berada di QC adalah merasakan training langsung bersama dengan Plant Directornya. Sebut saja namanya Mr. Rajesh (lol memang nama aslinya). Nggak pernah terbayang kan orang dengan jabatan setinggi Plant Director mau susah-susah ngasih training ke staffnya? Biasanya sesi training ini memang dilaksanakan rutin setiap 2 minggu sekali untuk staff di QC (termasuk analis dan supervisornya) juga beberapa orang dari QA.

Pada mulanya aku berpikir tidak diminta ikut training juga karena aku cuma anak bawang magang. Namun supervisorku ternyata mengajakku ikut. Bengong pada awalnya karena bener-bener nge blank  tentang format dan isi training pada umumnya, apalagi Mr.Rajesh ternyata orang India dan dia pakai bahasa Inggris yang aneh logatnya. Perlu waktu otakku loading agak lama untuk memahami apa yang beliau bicarakan. Separo lebih apa yang dia bicarakan pada awalnya sama sekali cuma masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Baru di tengah2 aku agak mudeng (cuma “agak”, maklum skill listeningku di TOEFL hancur lebur) apa yang beliau bicarakan. Oooh, tentang kalibrasi timbangan. Bagaimana cara kalibrasi timbangan. Traceability. Hampir semuanya merupakan pengetahuan baru yang tidak aku dapatkan di kampus. Hmm, menarik, menarik *write it down*. Kemudian tiba-tiba topiknya beralih ke disolusi. Menariknya lagi, mulai ditanyain satu persatu nih staffnya. Wah, kok Mr.Rajesh hafal nama staffnya juga yah? Soalnya dia meng-adress staffnya dengan namanya langsung.

For example : “Das*p, please explain to me the acceptance criteria for dissolution according to USP Apparatus One.”

What the….?! Gw aja nggak ngerti!!! (ketahuan nggak pernah baca USP, atau, tidur saat kuliah biofarmasetika dulu).

Saat staff yang ditanya kebingungan menjawab (mungkin karena grogi, mungkin karena bahasa Inggrisnya nggak lancar, meskipun sebenarnya tahu kalau diminta menjelaskan dalam Bahasa Indonesia), supervisor QC di tempatku pun membantunya “merangkai kata” (eciehhhh). Ternyata ada yang dinamakan S1, S2, S3 dan sebagainya. Intinya kalau S1 tidak memenuhi syarat, dilanjutkan S2, kemudian (paling mentok) S3. (baca sendiri di USP woy!)

Setelah dijelaskan, Mr.Rajesh balik bertanya.

Well then, do you know why they made an acceptance criteria like that?” (p.s : aku sbnrnya agak lupa persisnya bapaknya ngomong gimana, tapi intinya begitu)

DAFUQ

DAFUQ

 

DAFUQ! Pertanyaan apa itoeee? Berasa kayak pre-test mau praktikum biofarmasetika!

Semuanya hening. Nggak ada yang bisa menjawab kayaknya. Termasuk aku. Damn it……apa yah??? Kayaknya aku berpikir aku mungkin tahu sebabnya, tapi kok susah mau ngomongnya. Kemudian bapaknya ngomong lagi (belum memberikan jawaban). Mengapa zat X di test method  waktu disolusinya cuma 30 menit. Sedangkan untuk zat Y disolusinya perlu 60 menit. Mengapa kriteria keberterimaan tiap zat aktif untuk kadar disolusi berbeda-beda. Aku dengarkan penjelasan bapaknya baik-baik. Aku mencoba menghubungkan semua fakta yang ada….dan kesimpulan yang bisa ditarik dari semua itu.

 

BCS, Biopharmaceutical Classification System

Tiba-tiba sepatah kata itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari. Semua orang terdiam. Sial. Aku lancang banget sih jadi anak magang motong pembicaraan di tengah-tengah. Mr.Rajesh langsung melirik ke arahku.

“What? What did you just say?!”

Mungkin karena suaraku agak lirih sehingga tidak terdengar jelas barusan.

“BCS, Sir. Biopharmaceutical Classification System.” jawabku dengan suara agak keras

(aku agak khawatir salah singkatan, tertukar dengan BSC (Balance Score Card) yang aku pelajari saat kuliah manajemen lol)

“WHO IS SHE?!”

Kaget. Tiba-tiba Bapaknya teriak kayak gitu sambil nunjuk-nunjuk ke arahku. Calm down, Sir. Mungkin karena Mr.Rajesh familiar dengan semua staff di QC, dan yang menyela pembicaraan beliau adalah orang asing cuma numpang lewat.*setel lagu India*

Setelah dijelaskan supervisorku bahwa aku adalah anak magang dari universitas, beliau langsung mangut-mangut.

“I see, a college student. The difference between we, as practical person and she, as college student, is because she study everyday, unlike us.”

“W-Well, it’s not like I study everyday….” bantahku. Kenyataan memang kalau aku ini always procrastinating.

But I’m glad. Kesan pertama Mr.Rajesh ke aku jadi bagus karena beliau impressed atas pengetahuanku (yang secara kebetulan tiba2 muncul ke permukaan setelah sekian lama cuma mengendap di hippocampus). Dan secara tidak langsung membuat “image”ku di mata supervisor dan staff2 QC lainnya juga jadi baik. Hehehe. Mungkin aku memang kurang di bagian practical skill, tp ada di bagian tertentu aku bisa lebih baik dari mereka.

Setelah penjelasan bla bla bla tentang disolusi (dan memang benar tentang BCS tersebutlah yang menyebabkan dibuatnya acceptance criteria mulai S1, S2 dan S3 dengan mempertimbangkan sifat bahan aktifnya) Mr.Rajesh mengajak semua staffnya masuk ke ruang instrument (dimana terdapat instrumen seperti HPLC, GC, spektrofotometer UV, dan IR). Disana Mr.Rajesh kembali memulai penjelasannya tentang….spektrofotometer UV-Vis. As if want to test my ability once again, beliau memintaku untuk menjelaskan tentang hukum Lambet Beer yang mendasari prinsip kerja spektrofotometer UV-Vis.

 

And my awkward explanation goes on…..Padahal kalau ditulis sebenarnya gampang banget, A = e bc. Tapi kalau diminta menjelaskan, dalam bahasa Inggris pula, susah juga ==’

 

Well, in the end, although I’m not too confident about it, but again Mr.Rajesh looks impressed. Aku sih cuma senyum-senyum dan gak berharap ditanyain lagi!… kemudian mundur perlahan mengambil posisi yang tidak “mencolok”. Sesi training ini akhirnya berakhir sekitar 1 jam kemudian. Tentunya setelah itu, aku sadar masih banyak yang harus dipelajari, walaupun hanya 1 topik, misalnya tentang disolusi. Ternyata ilmu kuliah itu berguna juga, walaupun hanya sedikiiiiit, dan harus terus di-update saat kita bekerja nantinya :). karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, dan regulasi selalu berubah, maka dari itu kita harus selalu menyesuaikan diri terhadap perkembangan terbaru (terutama yang mau kerja di Industri Farmasi sih, hehe).

 

Begitulah salah satu dari pengalamanku yang seru di QC selama 2 bulan. Sejujurnya, aku sering dikasih kerjaan nggak penting selama PKPA Industri, seperti merapikan dokumen, SOP, mengantar barang, fotocopy, scan, bahkan mengukur dimensi tablet :p Ada juga hal yang bermanfaat sekaligus seru seperti pengalaman sampling raw material, sampling air dan masuk ruang mikrobiologi (berakhir dengan gagal total karena aku grogi, padahal cuma nyaring air pake filter >___> dan lagi2 dimarahin staff QCnya karena dianggap tidak kompeten….ha ha ha. Ya sudahlah). Enaknya di QC, masih bisa jalan-jalan, kalau di QA sih, di depan komputer melulu dan kerjaannya itu2 saja, ha ha ha. *evil laugh*

 

Ini pengalamanku, mana pengalamanmu? :p

 


About Tiya Novlita

5th year Pharmacy undergrad student, procrastinating illustrator and Visual Novel developer with zero knowledge of programming
This entry was posted in Life Experience, Pharmacy, PKPA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *