Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

Pssst….sharing pengalaman dari teman yang kemarin kerja praktek lapangan di Puskesmas 😀

Teman-teman sekalian, tahukah kalian bahwa para pecandu narkoba (terutama golongan opiat) yang ingin kembali ke jalan yang “benar” 😆 —>. dalam artian memang berniat tidak mengkonsumsi narkoba lagi dan menghilangkan ketergantungannya terhadap barang tersebut—-
mendapat dukungan pemerintah melalui salah satu programnya yaitu Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)? 😀
Apakah yang dimaksud dengan PTRM itu? Yuk simak baik-baik ^_^

[TERAPI RUMATAN METADON]
Terapi rumatan Metadon merupakan salah satu terapi pengganti opiat (Opiate Replacement Therapy) yang diperlukan bagi pecandu opiat (seperti heroin atau morfin) untuk mengendalikan perilaku ketergantungannya dan juga sebagai salah satu upaya pengurangan dampak buruk penularan HIV/AIDS. Salah satu unit kesehatan yang diberikan wewenang menyelenggarakan terapi ini adalah puskesmas dan rumah sakit, meskipun tidak semua puskesmas/RS diberi kewenangan menyelenggarakan program ini. Pemberian metadon harian kepada pasien ketergantungan diawasi langsung oleh petugas kesehatan untuk menjamin ketepatan dosis (takaran) dan menghindari penyalahgunaan.

[MENGAPA DIGUNAKAN METADON?]


Metadon merupakan golongan opioid sintetis yang cara kerjanya sama dengan morfin dan heroin, bekerja pada reseptor (tempat aksi) yang sama dan juga menimbulkan efek yang sama sebagai analgesik (anti-nyeri/pereda rasa sakit). Meskipun begitu, sifatnya yang lebih stabil dari heroin dan durasi kerjanya yang lebih lama membantu pasien untuk bertahan lebih lama dengan sensasi penurunan kesadaran yang minim sehingga memungkinkan pasien untuk mengonsumsi sekali sehari tanpa mengganggu aktivitas rutinnya. Metadon juga tidak segera menimbulkan perasaan euforia (kesenangan yang luar biasa) sebagaimana penggunaan heroin/morfin.
Ketergantungan narkotika golongan opiat tidak bisa dihentikan secara mendadak karena akan menimbulkan withdrawal symptom (istilah lainnya : sakaw) yang luar biasa dan pecandu akan merasa sangat kesakitan, sehingga diperlukan penggantian terapi secara perlahan-lahan, salah satunya dengan metadon.

[KRITERIA PASIEN YANG BISA MENGIKUTI PTRM]
1. Berusia minimal 18 tahun dan tidak menderita sakit berat.
2. Mengalami ketergantungan heroin dalam jangka 12 bulan terakhir disertai gejala kecanduan seperti peningkatan dosis heroin dan putus zat (sakaw) bila tidak memakai
3. Sudah pernah mencoba berhenti menggunakan heroin dengan cara rehabilitasi atau detoksifikasi namun gagal dan memakai kembali.
4. Harus diketahui oleh pihak keluarga yang berperan sebagai pendamping atau pada situasi yang tidak memungkinkan, dapat diwalikan oleh pihak lain seperti pendamping LSM.

Perlu diingat juga bahwa selain kriteria diatas yang harus dipenuhi, yang terpenting adalah kesiapan si calon pasien untuk mengikuti program terapi yang bersifat jangka panjang ini. Jangka terapi tidak bisa ditentukan di muka mengingat selama perjalanan terapi seorang pasien dapat saja kambuh menggunakan heroin kembali sehingga membutuhkan perencanaan dosis ulang, atau seorang pasien bisa saja menjalani pengobatan antivirus untuk HIV/AIDS yang membutuhkan peningkatan dosis metadon.

[TAHAPAN PTRM]
Terapi Rumatan Metadon ini diselenggarakan dalam berbagai tahapan yang terdiri dari tahap penerimaan, inisiasi, stabilisasi, rumatan dan penghentian. Keseluruhan tahap ini membutuhkan waktu yang panjang dan berkesinambungan.

1. Penerimaan
Pada tahapan ini pasien akan dilihat apakah memenuhi kriteria untuk mengikuti PTRM dan juga dilakukan pemberian informasi mengenai PTRM, serta dilakukan penyusunan rencana terapi.

2. Inisiasi
Pada tahap ini mulai dilakukan pemberian metadon ke pasien. Dosis awal yang dianjurkan adalah 20-30 mg untuk tiga hari pertama. Kematian sering terjadi bila menggunakan dosis awal yang melebihi 40 mg. Pasien harus diobservasi 45 menit setelah pemberian dosis awal untuk memantau tanda-tanda toksisitas (keracunan) atau gejala putus obat. Jika terdapat intoksikasi atau gejala putus obat berat maka dosis akan dimodifikasi sesuai dengan keadaan.

Metadon harus diberikan dalam bentuk cair dan diencerkan sampai menjadi 100cc dengan larutan sirup. Pasien harus hadir setiap hari di institusi tempat penyelenggaraan PTRM. Metadon sesuai resep dokter, akan diberikan oleh tenaga teknis kefarmasian (contohnya asisten apoteker) atau perawat yang diberi wewenang oleh apoteker penanggung jawab. Pasien harus segera menelan Metadon tersebut di hadapan petugas PTRM. Petugas PTRM akan memberikan segelas air minum. Setelah diminum, petugas akan meminta pasien menyebutkan namanya atau mengatakan sesuatu yang lain untuk memastikan bahwa Metadon telah ditelan. Pasien harus menandatangani buku yang
tersedia, sebagai bukti bahwa ia telah menerima dosis Metadon hari itu.

3. Stabilisasi
Tahap ini bertujuan untuk menaikkan dosis secara perlahan
sehingga memasuki tahap rumatan/pemeliharaan. Dosis yang dianjurkan dalam tahap ini adalah menaikkan dosis awal 5-10 mg tiap 3-5 hari. Hal ini bertujuan untuk melihat efek dari dosis yang sedang diberikan. Total kenaikan dosis tiap minggu tidak boleh lebih 30 mg. Apabila pasien masih menggunakan heroin maka dosis Metadon perlu ditingkatkan.

4. Rumatan/Pemeliharaan
Dosis rumatan rata-rata adalah 60-120 mg per hari. Dosis rumatan harus dipantau dan disesuaikan setiap hari secara teratur tergantung dari keadaan pasien. Selain itu banyak pengaruh sosial lainnya yang menjadi pertimbangan penyesuaian dosis. Fase ini dapat berjalan selama bertahun-tahun sampai perilaku stabil, baik dalam bidang pekerjaan, emosi maupun kehidupan sosial.

5. Penghentian
Metadon dapat dihentikan secara bertahap perlahan jika pasien sudah dalam keadaan stabil, bebas heroin selama 6 bulan dan mampu bekerja serta memiliki dukungan hidup yang memadai.

Selengkapnya bisa Anda baca di Permenkes no.57 tahun 2013 tentang PEDOMAN PENYELENGGARAAN PROGRAM TERAPI RUMATAN METADON. 

[KESIMPULAN]
Yang harus diingat metadon bukanlah solusi utama dari kecanduan. Metadon hanyalah obat yang bertujuan menghindarkan pasien dari pemakaian heroin. Motivasi diri pasien amat berperan selama masa terapi, terutama sebelum dosis stabil dicapai yang rentan sekali untuk memakai kembali heroin. Bila kepatuhan terapi terjaga, pasien dapat terhindar dari infeksi HIV dari penggunaan heroin suntik dan dapat mengendalikan hidupnya ke arah yang lebih produktif. Untuk mencapai ini dukungan orang terdekat seperti keluarga sangat diutamakan.

Demikian semoga informasi ini bermanfaat \ n__n / kalau ada yang mau ditanyakan silakan~ kapan2 kita lanjutkan cerita ini lagi

———————————————————————————————————-

sedikit promosi nih :p bagi yang mau mendapatkan update info tentang dunia kefarmasian di Facebook, silakan Like dan follow page ini “Fun-Fun Pharmacy” 😀


About Tiya Novlita

5th year Pharmacy undergrad student, procrastinating illustrator and Visual Novel developer with zero knowledge of programming
This entry was posted in Life Experience, Pharmacy, PKPA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *