Random Rant About Ujian Komprehensif (1)

Hari 1. Materi : Apotek.

Blergh. Udah males2an belajar. Gak tahu kenapa, kurang minat sama bidang yang satu ini.

Untung dapat giliran ke-6. Jadi bisa dapet bocoran soal dari yang sebelum2nya.

Jam 12.30. Nervous menunggu giliran ditambah suhu ruangan yang begitu dinginnya, dengan enggan aku masuk ruangan dan berharap ini semua cepat selesai. Jujur karena aku nggak menguasai materi (bahkan laporan sendiri saja belum dibaca sampai tuntas), aku cuma bisa mempersiapkan yang terburuk.

Apalagi setelah mendengar dari teman2 yg sblmnya bahwa salah satu pengujinya suka tanya yg aneh2 (unpredictable).

Aaaah, whatever. Let’s end this quickly.

Pengujinya ada dua orang. Sebut saja Pak H dan Bu S. Pak H ini dosen muda (belum pernah diajar beliau sih), tapi dia juga punya apotek, disini berperan sebagai praktisi. Sedangkan Ibu S adalah dosen “legendaris” yang sudah dikenal di kalangan mahasiswa.

Kata teman2 yg sblmnya sih, Pak H ini yang suka memberikan pertanyaan aneh2 (wkwkwk).

>>Masuk ruangan, duduk, dan menghela nafas. Ditanya sama Pak H.

H : “Mbak XXX ya?” (konfirmasi)

Aku : “Iya.”

H : “Dari minat apa?”

Aku : “Industri.”

H : “Kemarin mengerjakan laporan yang bagian apa?

Aku : “Errr….tinjauan pustaka aspek bisnis dan keuangan.”

H : “Berarti bisa ya kalau saya tanya bagian itu?”

Aku : (DAAAAAAAAAAAAAAMN. Kmrn pas bikin laporan 60%nya copas karena diburu2 deadline dan belum dibaca lagi)”Eh….iya Pak. Tapi kalau mau tanya yg lain jg silakan.”

BELAGU LEVEL 90000000000. Aslinya berharap nggak ditanya aspek diatas sih. Lol

H : “Baiklah, pertanyaan pertama. Apa perbedaan narkotika dan psikotropika?”

DAFUQ LEVEL 90000000. Meski ikut kuliah drug abuse, aku selalu nggak bagus dalam menjelaskan definisi yang “resmi”, jadi aku berkilah dengan menyebutkan contoh2nya. Dan biar sedikit meyakinkan aku menambahkan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu

Aku : “….selengkapnya bisa dibaca di UU no. sekiansekiansekian Pak.” (dalam hati : udah, cukup, gitu aja kan ya!)

H : “Penyimpanan narkotika dan psikotropika di apotek tempat kamu praktek kemarin? Dan apa saja contohnya?”

Aku : (menjelaskan sesuai keadaan)

H : “Kalau tramadol itu masuk apa?”

Aku : “Narkotika Pak. Meskipun di apotek tempat saya kemarin nggak disimpan di lemari narkotika.”

H : “Pesannya pakai SP (surat pesanan) apa?”

Aku : (agak nggak yakin)”Errr…narkotika kan ya Pak?”

H : “Hmmm….yakin?” (dengan tatapan ngetes)

Aku : “…………………………………..”

Aku : “Sebenarnya sih Pak, saya belum pernah melihat SPnya untuk tramadol.”

H : “Yang benar tramadol itu masih pakai SP biasa/reguler.”

Aku : “………………..oh.”

>>Move on ke pertanyaan selanjutnya (yang aku masih inget)

H : “Bedanya neraca sama laporan rugi laba? Dan fungsinya?”

Jujur karena aku nggak terlalu menguasai bagian ini (kemarin tdk dapat prakteknya secara langsung), aku cuma menjelaskan setahuku

H : “Hmmm…..masa’ iya sih begitu?”

Aku : “………………………………”

H : “Komponen aktiva sama pasiva apa saja?”

Aku : (menjelaskan seperlunya)

H : “Misalnya nih, saya punya data uang kas, persediaan obat, dan simpanan di bank. Gimana kamu menyusunnya dalam suatu neraca (di bagian aktiva)?”

Aku : (mengurutkan setahuku, seperti yg aku biasa lihat di contoh soal ////dasar kurang pengetahuan)

H : “Kenapa disusun seperti itu? Kamu tahu alasannya?”

Aku : (ragu2) “Eh…..dari tingkat…kemudahan dicairkannya sebagai uang tunai?” ///jawab kayak orang bego

MAU BILANG LIKUIDITAS AJA KOK SUSAH SAAT ITU

H : “Hmph, yakin begitu?”

Hahahahaha. Ini penguji……

Aku salah perkiraan. Kupikir karena Pak H itu dosen farmasetika, bakal ditanyain tentang pembuatan sediaan, peracikan, pelayanan kefarmasian dan hal2 semacam itu. Aku sama sekali nggak berpikir ditanya tentang keuangan sebegini detilnya.

H : “Bisa jelaskan perhitungan laba bersih dan laba kotor?”

(OK kalau yang ini aku bisa jelaskan. Bahkan mungkin ini satu2nya pertanyaan yang aku bisa jawab dengan yakin semenjak pertama tadi .__.)

>>Mari move on ke aspek berikutnya……

H : “Apotek tempat kamu praktek kemarin, berbentuk perseorangan apa badan usaha?”

Aku : “Badan usaha Pak.” (lalu cerita sedikit tentang sejarah pendirian, dan struktur organisasinya untuk memberikan gambaran)

H : “Jadi bentuknya PT (perseroan terbatas) ya apotek tempatmu kemarin….”

H : “Kalau begitu, kamu tahu bedanya CV sama PT?”

Well, ini salah satu pertanyaan yg nggak terduga…..

Aku ingat betul dulu pas SMP pernah dapat pelajaran tentang bentuk2 badan usaha saat pelajaran Ekonomi, termasuk CV, firma, PT dll. Sayangnya sebagian besar isinya sudah lupa. Jadi yah….aku jelaskan saja seingatku .__.

>>Sepertinya karena Pak H sudah merasa penjelasan saya out of topic, jadi pindah ke pertanyaan selanjutnya.

H : “Apotek tempat kamu praktek kemarin, masuk dalam strategi manajemen level apa? Corporate, bisnis, atau fungsional?”

Aku : “Hah…..?”

H : (mengulangi pertanyaaan karena yang ditest memang bego. Padahal ada di laporan, dan yang NULIS ITU AKU!!!)

Aku : “Oh…..eh…..err……” (mikir agak lama)

Aku : “……corporate, Pak?”

H : “Yakin? Kalau apotekmu level corporate, terus yang “diatas”nya lagi gimana?”

(karena memang posisi apotek tempatku praktek memang dikelola atas nama PT sih. Jadi sebut saja PT F., dia mengelola banyak bidang usaha mulai dari apotek, klinik dan sebagainya)

Aku : (mikir keras)

Aku : “Bisnis (aja deh) Pak…..” *pasrah

H : “Kalau di level bisnis, strategi pengembangan apa yang digunakan?”

Aku : (sedikit mengalihkan perhatian)”Jadi Pak, kalau di level bisnis, ada 3 strategi pengembangan yang bisa dilakukan, yaitu cost leadership/overall low cost, diferensiasi dan fokus….kalau apotek tempat saya kemarin, karena dia meng”khusus”kan diri untuk melayani pensiunan XXX, maka dia mengambil strategi terfokus…..”

H : (nggak menanggapi, lalu beralih ke pertanyaan lain)

In the end, aku nggak pernah tahu jawaban yang benar itu seperti apa *rage

Oh iya, sebenarnya aku tahu kalau Pak H juga punya background manajemen. Tapi nggak menyangka bakal ditanya seperti ini juga >(////)< SALAH PERKIRAAN, SALAH STRATEGI, SALAH SEMUANYA ///fliptable

>>Next Question

H : “Kamu berniat mendirikan apotek?”

Aku : “Nggak.” (langsung aku jawab dgn tegas dan spontan)

H : “Hahaha, kenapa?”

Aku : (memang bukan passionnya di situ sih sbnrnya, tapi karena ini UJIAN KOMPRE, ya aku jawab dgn logis lah) “Perijinannya ribet Pak.”

H : “Oh iya? Sekarang coba jelaskan perijinan apotek mulai dari awal kamu mendirikan.”

Senjata makan tuan.

Jadinya yha gitu deh, malah diminta menjelaskan alur pendirian apotek. Yah setidaknya masih lebih mending lah daripada ditanya soal neraca keuangan, manajemen strategi atau perbedaan CV dan PT! (dimana aku sama sekali nggak menguasai hal itu, nggak belajar dan nggak menyangka akan ditanyakan)

H : “Nah lo, ribet di mana? Setelah lulus kamu langsung dapat SK (sertifikat kompetensi) dan STRA (surat tanda registrasi apoteker), kamu tinggal mengurus SIPA (surat ijin praktek apoteker) kan?”

Aku : “Tapi sertifikat kompetensi kan harus diperbaharui setiap tahun Pak, nanti yang lain2nya juga menyusul seperti STRA, SIPA/SIKA, kalau sudah expired kan jg harus perpanjang.”

H : “Setahun???”

Aku : “Eh, salah Pak, maksudnya 5 tahun.” (hahaha)

H : “La kalau kamu kerja jadi apoteker di industri memang nggak ngurus seperti itu? Kan sama saja.”

Aku : (akhirnya menyerah) “Memang saya tidak suka bekerja di bidang pelayanan seperti itu….”

Aku : (melanjutkan penjelasan tanpa diminta)”Setelah itu kan Pak, itu kan baru dari sisi apotekernya sendiri. Kalau dari sisi bangunan, lebih ribet lagi Pak untuk mendapatkan ijin apotek, kita harus mengurus ijin IMB, HO, TDP, SIUP, NPWP bla bla bla bla……(and the story continues).”

Penjelasanku seperti di-cut di tengah jalan karena kalau aku ngomong hal yg aku kuasai, bisa2 alokasi waktunya habis sedangkan penguji kedua (ooops, maaf Ibu S!) belum menanyakan apa-apa.

Akhirnya, move on ke penguji selanjutnya yaitu Ibu S.

S : “Wah, nggak berminat mendirikan apotek ya. Tapi kan ini ujian, jadi ya (kamu) tetep harus ditanya.”

Wakakakakakakaka. Lucu Bu, lucu sekali.

Diluar dugaan, dosen legendaris yang terkenal cukup killer ini hanya memberikan 2 pertanyaan, dan itupun tergolong cukup mudah, hanya perhitungan dosis dan manajemen SDM. Itupun kalau salah masih dikoreksi dan diceramahin. Hehehe. Aku sih jadi anak baik saja yang meng-iya-kan semuanya *gak mau cari masalah*

Akhirnya….sesi ujianku selama 50 menit (harusnya 40 menit berakhir) dan ditutup dengan salam dari Ibu S “Selamat bekerja ya di industri.” Mungkin ibunya sudah cukup tahu kalau dari sikap dan ekspresiku tadi aku sama sekali nggak berniat kerja di apotek/membuka apotek. Hahahahaha.

====THE STORY CONTINUES INTO THE NEXT PART : DAY 2 : INDUSTRI ===== 😀

 


About Tiya Novlita

5th year Pharmacy undergrad student, procrastinating illustrator and Visual Novel developer with zero knowledge of programming
This entry was posted in Life Experience, Pharmacy, Ujian Komprehensif and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Random Rant About Ujian Komprehensif (1)

  1. Lintang says:

    Cerita yang menarik sekali, bisa digunakan untuk sharing. Terima kasih. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *